Barusan saya abis baca blog temen saya yang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap generasi penerus bangsa ini. Bukannya saya sok pemerhati atau belaga jadi sosiologi cuma apa yg dikhawatirkan teman saya ini memang benar. Satu hal yang jelas adalah rasa empati dan perilaku anak muda sekarang. Contoh yang mudah, pada saat berjalan di sebuah lorong sempit katakanlah disebuah supermarket atau lorong sebuah mal terlhat sekumpulan mereka bergerombol hampir menutupi jalan. Mereka larut dalam asyiknya pembicaraan seru, yang entah apa, tanpa peduli sedikitpun akan orang yang terganggu karena tidak bisa lewat karena terhalang oleh mereka.
Siapa sekarang yang tidak kenal dengan 7-11 atau “sevel” kalau kata anak muda sekarang, entah bacanya “sével” apa “sévél”. Sepanjang sepengetahuan saya 7-11 ini merupakan toko self service. Kalau Anda makan maka buanglah sampah makanan atau minuman Anda tadi ke tempat sampah. Namun sepertinya budaya self service ini tidak dikenal oleh para penikmat 7-11 di Jakarta. Sampah berserakan dimana-mana. Padahal yang datang kebanyakan anak2 muda ada juga dewasa yang cukup gaul. Terlihat dari gaya pakaian dan aksesoris yang mereka pakai. 7-11 memang sudah menjadi tempat gaul ibukota namun apa daya budaya buang sampah pada tempatnya masih jauh dari kamus orang indonesia khususnya orang Jakarta ini baik mereka yang berasal dari strata ekonomi berkecukupan sampai yang menegah kebawah sekalipun.
Sekali lagi kekhawatiran teman saya di atas sangat bisa saya pahami
hiks… hiks… mau jadi apa kita ini nanti
